Oleh: Ahmad Fikri Amrullah
Siang itu, Ahad 1
Desember 2024 ada berita duka atas wafatnya Ustadz Fuad Yahya melalui WhatsApp
Grup. Awalnya sempat tidak mempercayai bahwa beliau telah menghadap Sang Kholiq.
Sehari sebelum beliau wafat kami sempat menjenguknya di RSUD dr. Iskak
Tulungagung dan kami masih sempat jagongan dengan beliau. Namun ternyata berita
tersebut memang benar adanya, bahwasanya beliau harus menghadap ke Ilahi Robbi.
Secara pribadi, saya mengenal
Ustadz Fuad sejak kisaran tahun 2019 saat kami menjalani PKPNU (Pendidikan
Kader Penggerak Nahdlatul Ulama) III di Madin Ar-Rohman Pakunden. Kemudian saya
semakin mengenal beliau saat kami sama-sama berkhidmah di Lembaga PCNU Kota
Blitar. Beliau menjabat sebagai sekretaris LTMNU (Lembaga Takmir Masjid
Nahdlatul Ulama), sedangkan saya sebagai ketua RMINU (Rabithah Ma’ahid
Islamiyah Nahdlatul Ulama).
Keseharian beliau sebagai
guru MI di Desa Sumber, Kab. Blitar. Meskipun keseharian beliau adalah sebagai
guru, tetapi tak pernah lepas dari aktivitasnya di organisasi Nahdlatul Ulama. Beliau
dikenal sebagai sosok yang memiliki dedikasi dan totalitas dalam menyalurkan
kontribusinya untuk organisasi tersebut. Salah satu program yang menjadi
inisiasi beliau adalah Program Seruling (Sedekah Rutin Keliling) setiap Jum’at
pagi di masjid-masjid, kemudian dilanjut dengan Kuliah Subuh yang diisi oleh
pengurus LTMNU Kota Blitar. Menurut keterangan dari sahabat saya Kyai Mansur
Sodiq bahwa setiap Jum’at pagi Almarhum Ustadz Fuad Yahya selalu hadir lebih
awal sekitar jam 03.00 WIB. Beliau juga aktif terlibat di lembaga NU-CARE
Lazisnu Kota Blitar, sebuah lembaga sosial yang bergerak di bidang pengeloalaan
Zakat, Infaq, dan Shodaqoh. Selain itu beliau juga dikenal sebagai sosok yang istiqomah
dalam melaksanakan sholat berjama’ah dan menjalankan puasa Senin-Kamis.
Beliau saya sebut
sebagi orang yang ahli khidmah, seseorang yang memiliki kemampuan
totalitas dalam mengorganisir sebuah organisasi. Keaktifan almarhum dalam berkhidmah
menjadi bukti yang tidak bisa ditolak, dan tidak perlu diragukan lagi.
Seseorang organisatoris yang memiliki kemampuan atau keahlian tersendiri yang
dengan keahlian tersebut bisa mengembangkan dan memaksimalkannya. Tentu saja
dalam posisi seperti ini, beliau seorang organisatoris yang tentu berperan
aktif dan ikut berkontribusi dalam mengembangkan, memajukan dan mensejahterakan
oraganisasi dan para anggotanya. Sosok seperti almarhum inilah yang patut
dicontoh, diteladani, dan diteruskan perjuangannya dalam sekian banyak
kehidupan di masyarakat yang sangat luas dan kompleks. Kita ada dimana,
berperan sebagai apa, menjadi bagian yang penting untuk terus memiliki jiwa khidmah
dalam berorganisasi. Itulah yang terdapat pada sosok almarhum Ustadz Fuad
Yahya.
Sekilas dan sedikit
gambaran tentang almarhum ini, tentu saja tidak dimaksudkan untuk memberikan
gambaran keseluruhan atas kepribadian dan profesionalitas beliau dalam berbagai
hal, dan tentu saja uraian yang ada dalam tulisan ini masih jauh dari
kepribadian dan profesionalitas beliau yang sebenarnya. Paling tidak, ini bisa
menjadi teladan bagi kita semua yang semoga berarti dan bisa bermanfaat.
Dan akhirnya kita
menyadari bahwa antara hidup dan mati memang sangat tipis jaraknya dan kita
tidak pernah tahu kapan kematian itu akan datang menjemput. Kematian adalah
sebuah kepastian yang akan menyapa setiap makhluk bernyawa. Dalam QS. Ali
Imran: 185 Allah SWT berfirman: “Setiap tubuh yang berjiwa pasti merasakan
mati, bahwasanya pahalamu akan disempurnakan (dibayar) di hari kiamat. Barang
siapa dihindarkan dari neraka dan diangkat ke surga, sungguh menanglah dia.
Tiadalah kehidupan di dunia ini, kecuali hanya kesenangan palsu yang
memperdaya”.
Setiap orang menyadari
bahwa hidup ini ada akhirnya. Hanya saja kapan dan bagaimana kita akan
menghadapi kematian, tak seorang pun yang tahu. Firman Allah SWT: “Seseorang
tidak tahu pasti apa yang akan diperbuatnya besok pagi, dan tidak pula
mengetahui secara pasti di bumi/daerah mana ia akan mati” (QS. Luqman:
34).
Vonis-vonis dokter pun
sangat terbatas, hanya pada sedikit kasus dan itupun bukan harga mutlak. Dokter
hanya bisa memberi perkiraan -sekitar- berdasarkan keilmuan. Bisa jadi benar,
bisa jadi salah. Sebab, sekali lagi hidup dan mati benar-benar menjadi rahasia
Allah SWT. Berapa banyak orang yang sehat sentosa tiba-tiba meninggal mendadak.
Berapa banyak orang yang selamat dalam kecelakaan-kecelakaan maut. Atau berapa
banyak orang yang sembuh dari penyakit kritis yang divonis tak terobati.
Ajal akan datang pada
saat yang Allah tetapkan, tanpa ada yang bisa menunda atau mempercepatnya.
“… ketika ajal mereka tiba, mereka tiada daya menangguhkannya ataupun
menyegerakannya sesaatpun” (QS. Al-A’raf: 34).
Ketentuan ini memberi
isyarat bagi kita untuk senantiasa bersiap-siaga menuju kematian. Rahasia
kematian mengajarkan produktivitas tinggi pada manusia. Karena tidak tahu kapan
akan dipanggil-Nya, maka manusia diajarkan senantiasa mencetak karya-karya
terbaik sepanjang masa. Manusia juga diajarkan untuk senantiasa membina
hubungan silaturahim yang baik dengan semua orang di setiap kesempatan.
Alangkah indahnya dunia
ini tatkala setiap orang menyadari hakikat kabar kematian yang tersembunyi. Hal
terpenting bukanlah tentang kapan dan dengan cara apa kita menutup lembaran
kehidupan kita di dunia ini. Tapi bagaimana akhir kisah yang kita ukir dalam
lembaran-lembaran itu.
Hal terpenting adalah
tak ada penyesalan ketika kita meninggalkan dunia ini. Kematian kita menjadi
sebuah kabar duka bagi setiap oarng yang sempat maupun yang tidak sempat
mengenal kita, sehingga rangkaian do’a pun mengalir laksana mata air.
Dan pada saatnya di
yaumil akhir nanti, kita bisa bertemu Allah SWT dalam sumringah wajah
ketaqwaan. Akhirnya, tuntunan kekasih Allah -Rasulullah SAW- benar-benar
menjadi rumus pamungkas bagi kita dalam menjalani hidup ini: “Bekerjalah untuk
duniamu seolah-olah kau hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu
seolah-olah kau akan mati esok hari”.
Ustadz Fuad Yahya
dengan wafatnya dalam keadaan membawa bekal khidmah yang tulus, khususnya untuk
Nahdlatul Ulama. Husnul Khatimah bukanlah sekadar harapan, tetapi juga tujuan
hidup yang dikejar dengan penuh kesungguhan. Tindakannya ini mencerminkan
komitmen yang kuat terhadap nilai-nilai agama dan kepatuhan kepada perintah
Allah SWT.
Kisah tragis yang
menimpa Ustadz Fuad Yahya menjadi pelajaran berharga bagi kita semua tentang
pentingnya menjalani kehidupan dengan kesadaran akan akhirat. Husnul Khatimah
bukan hanya sekadar impian yang jauh dari realitas, tetapi juga menjadi pijakan
yang kokoh bagi setiap langkah yang kita ambil dalam kehidupan ini.
Kematian yang berakhir
dengan Husnul Khatimah mengingatkan kita akan pentingnya menjalani kehidupan dengan
penuh kesadaran dan tanggung jawab, serta untuk selalu berusaha meningkatkan
kualitas iman dan amal kita. Setiap ibadah, setiap amal kebaikan yang kita
lakukan, merupakan investasi untuk mencapai Husnul Khatimah yang menjadi kunci
untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT dan memasuki Surga-Nya.
Dengan demikian, kisah
perjalanan hidup dan akhir kehidupan Gus Fuad Yahya menjadi inspirasi bagi kita
semua untuk mengejar Husnul Khatimah sebagai cita-cita mulia tertinggi dalam
kehidupan ini. Semoga Allah SWT memberikan tempat yang mulia bagi beliau di
Surga-Nya, dan semoga kita semua diberikan kekuatan dan keikhlasan untuk
mengikuti jejaknya dalam berkhidmah, sehingga kelak bisa mencapai Husnul
Khatimah. Aamiin Yaa Robbal ‘Aalamin.
Selamat jalan Ustadz
Fuad. Semoga engkau husnul khotimah dan bahagia di sisi-Nya. Engkau
benar-benar menjalani hidup dengan baik dan saya bersaksi engkau orang yang
baik. Lahul Fatihah.

0 Comments