Ngaji Bareng PCNU Kota Blitar: KH Abdil Karim Muhaimin Paparkan Tanda-Tanda Kiamat dalam Risalah Ahlussunnah wal Jamaah

BLITAR — Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Blitar kembali menggelar kegiatan Ngaji Bareng pada Ahad, 16 Agustus 2026, bertempat di Kantor PCNU Kota Blitar. Kegiatan tersebut diikuti oleh ratusan warga Nahdliyin dengan suasana penuh khidmat dan antusias.

Dalam kajian tersebut, KH Abdil Karim Muhaimin, Ketua MUI Kota Blitar, menyampaikan materi dari Risalah Ahlussunnah wal Jamaah, khususnya pembahasan halaman 25 yang menguraikan sejumlah tanda-tanda datangnya hari Kiamat.

Di hadapan ratusan jamaah, KH Abdil Karim Muhaimin menjelaskan beberapa riwayat yang dinukil dari para sahabat Nabi Muhammad SAW, antara lain tentang perubahan perilaku manusia, kondisi kepemimpinan, perkembangan perdagangan dan tulisan, hingga rusaknya hubungan sosial dan moral.



Anak, Kepemimpinan, dan Kerusakan Moral

Salah satu bagian yang dikaji adalah ungkapan:

 “An yakūnal waladu ghayẓan, wal-maṭaru qayẓan, wa tafīḍal-li’āmu fayḍan.”

Yang menggambarkan kondisi ketika anak justru menjadi sumber kesedihan atau kejengkelan, terjadi perubahan kondisi musim, serta semakin banyak orang yang buruk akhlaknya.

Menurut penjelasan dalam kajian, pesan tersebut dapat menjadi bahan introspeksi bagi keluarga dan masyarakat. Kemajuan zaman harus diiringi dengan pendidikan akhlak dan pembentukan karakter generasi.

KH Abdil Karim Muhaimin juga menjelaskan riwayat mengenai kondisi ketika orang-orang yang tidak layak justru memperoleh kedudukan dan kepemimpinan.

Pesan yang ditekankan adalah pentingnya menjaga standar moral dalam memberikan amanah. Kepemimpinan idealnya diberikan kepada orang yang memiliki ilmu, amanah, kejujuran, kemampuan, dan akhlak yang baik.



Masjid Megah, Hati Jangan Sampai Rusak

Pembahasan berikutnya menyentuh sebuah ungkapan yang sangat menarik:

“An tuzakhrafa al-maḥārību, wa an tukhrabal-qulūb.”

Artinya, mihrab-mihrab dihias dan diperindah, sementara hati manusia mengalami kerusakan.

KH Abdil Karim Muhaimin menjelaskan bahwa pesan tersebut mengandung peringatan agar kemajuan fisik tempat ibadah senantiasa diimbangi dengan peningkatan kualitas keimanan dan akhlak.

Masjid boleh semakin megah, indah, dan memiliki fasilitas yang semakin baik. Namun, kemegahan tersebut hendaknya berjalan bersama dengan semakin makmurnya hati, meningkatnya ibadah, serta semakin baiknya akhlak jamaah.

“Jangan sampai masjid semakin indah, tetapi hati manusia justru semakin jauh dari Allah,” menjadi pesan moral yang dapat ditarik dari pembahasan tersebut.



Perdagangan Berkembang, Silaturahmi Jangan Terputus

Materi selanjutnya membahas tentang semakin berkembangnya perdagangan, keterlibatan perempuan dalam membantu suami berdagang, terputusnya hubungan kekerabatan, semakin luasnya aktivitas tulis-menulis, serta munculnya kesaksian palsu.

Menurut penjelasan yang disampaikan, perkembangan ekonomi dan aktivitas masyarakat merupakan bagian dari dinamika kehidupan. Namun, perkembangan tersebut tidak boleh menyebabkan manusia kehilangan nilai-nilai sosial dan agama.

Kesibukan bekerja dan berdagang jangan sampai membuat hubungan keluarga semakin renggang. Demikian pula kemampuan menulis dan menyampaikan informasi harus digunakan untuk kebaikan, bukan untuk kebohongan atau kepentingan yang merugikan orang lain.

Menjadi Bahan Introspeksi Warga Nahdliyin

Kajian Risalah Ahlussunnah wal Jamaah tersebut tidak hanya membahas tanda-tanda Kiamat secara tekstual, tetapi juga mengajak jamaah melakukan muhasabah terhadap kondisi kehidupan saat ini.

Berbagai persoalan seperti pendidikan anak, kualitas kepemimpinan, kemegahan masjid, hubungan keluarga, perkembangan ekonomi, penggunaan tulisan dan informasi, serta kejujuran dalam memberikan kesaksian menjadi bagian penting dari refleksi kehidupan umat.

Pesan utama yang dapat diambil adalah bahwa kemajuan lahiriah harus berjalan seiring dengan kemajuan moral dan spiritual.

Kemajuan perdagangan, teknologi, bangunan, pendidikan, maupun komunikasi tidak akan memiliki makna yang sempurna apabila tidak dibarengi dengan keimanan, ilmu, akhlak, amanah, dan kepedulian sosial.

Kegiatan Ngaji Bareng PCNU Kota Blitar ini sekaligus menjadi ruang penguatan keilmuan dan keagamaan bagi warga Nahdliyin. Ratusan jamaah yang hadir mengikuti kajian dengan penuh perhatian, menjadikan kegiatan tersebut sebagai momentum untuk memperdalam pemahaman keislaman sekaligus memperkuat tradisi ngaji, silaturahmi, dan muhasabah di tengah masyarakat.

Ngaji Bareng PCNU Kota Blitar diharapkan terus menjadi sarana untuk menghadirkan kajian keislaman yang tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga mendorong lahirnya pribadi dan masyarakat yang semakin berilmu, berakhlak, amanah, dan peduli terhadap sesama.

Berikut dokumentasi yang berhasil dihimpun redaksi











0 Comments